Tradisi Ogoh-Ogoh di Bali

Discussion in 'Tourism' started by KangAndre, May 6, 2024.

Tags:
  1. KangAndre

    KangAndre Member

    Joined:
    Jan 25, 2014
    Messages:
    10,247
    Likes Received:
    2,715
    Trophy Points:
    413
    Hari Raya Nyepi adalah momen yang sangat penting bagi umat Hindu di Bali. Sebagai hari raya yang dipenuhi dengan keheningan dan refleksi, Nyepi menjadi momentum bagi umat Hindu untuk berintrospeksi dan merenungkan makna kehidupan. Namun, sebelum momen keheningan itu tiba, terdapat sebuah tradisi yang menjadi puncak dari rangkaian perayaan Nyepi, yaitu pembuatan dan penyembahan boneka raksasa bernama Ogoh-Ogoh.

    ogoh-ogoh-bali.jpg

    Istilah Ogoh-Ogoh sendiri berasal dari bahasa Bali yang berarti sesuatu yang digoyang-goyangkan. Tradisi pembuatan Ogoh-Ogoh dimulai pada tahun 1983, ketika Nyepi ditetapkan sebagai hari libur nasional oleh pemerintah Indonesia. Hal ini mendorong masyarakat Bali untuk merayakan Nyepi dengan menciptakan Ogoh-Ogoh di berbagai penjuru.

    Ogoh-Ogoh bukan hanya sekadar patung raksasa biasa. Mereka merupakan karya seni patung yang menggambarkan kepribadian Bhuta Kala dalam ajaran Hindu Dharma. Bhuta Kala sendiri merepresentasikan kekuatan alam semesta (Bhu) dan waktu (Kala) yang tak terukur dan tak terbantahkan. Dalam bentuk patung, Ogoh-Ogoh sering kali menggambarkan sosok besar dan menakutkan, seperti Rakshasa atau makhluk mitologi lainnya, seperti naga, gajah, atau tokoh terkenal.

    Setiap Ogoh-Ogoh, setelah selesai dibuat, langsung didoakan sebagai tanda penghormatan terhadap entitas spiritual yang diwakili. Selanjutnya, mereka diarak keliling desa dengan suara riuh, menuju tempat pembakaran jenazah atau pekuburan, atau bahkan lahan kosong. Di sana, Ogoh-Ogoh dibakar sebagai bagian dari proses bernama Nyomnya Kala, yang bertujuan menetralisir energi negatif atau Bhuta Kala di dalamnya, menjadikannya energi positif.

    Proses pembakaran Ogoh-Ogoh melambangkan keinsyafan manusia akan kekuatan alam semesta dan waktu yang maha dashyat. Tradisi ini tidak hanya sekadar upacara keagamaan, tetapi juga merupakan simbol dari pemahaman akan hubungan manusia dengan alam semesta dan kekuatan-kekuatan yang mengaturnya. Dengan memahami keberadaan Ogoh-Ogoh, umat Hindu di Bali juga semakin memahami bahwa kebahagiaan atau kehancuran seluruh dunia bergantung pada niat luhur manusia sebagai makhluk Tuhan yang paling mulia.

    Menurut , upacara Tawur Kesanga memerlukan suara riuh karena sifat Bhuta Kala senang dengan suara yang serba keras. Dalam upacara ini, terdapat tindakan seperti menyalakan api dari daun kelapa kering, menyemburkan bau-bau mesiu, jagung, bawang, dan bunyi kentongan, gong, atau gamelan. Semua kegiatan ini bertujuan mengembalikan posisi lima elemen utama penyusun alam semesta ke dalam sistemnya masing-masing.

    Penutup

    Tradisi Ogoh-Ogoh dalam perayaan Hari Raya Nyepi bukan sekadar perayaan yang indah secara visual, tetapi juga memiliki makna dan simbolisme mendalam dalam ajaran Hindu Dharma. Dengan melibatkan masyarakat Bali dalam proses pembuatan dan penyembahan Ogoh-Ogoh, tradisi ini menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya dan spiritualitas Bali. Melalui proses pembakaran Ogoh-Ogoh, umat Hindu memahami pentingnya menjaga keseimbangan alam semesta dan menjalani kehidupan dengan niat yang baik. Sehingga, Ogoh-Ogoh tidak hanya menjadi simbol kekuatan alam semesta, tetapi juga mengajarkan nilai-nilai kehidupan yang luhur kepada umat manusia.
     
Loading...

Share This Page