Nasib Ramlan: Dituduh Maling Pada Zaman Orba

Discussion in 'Politik' started by ridho1234, Apr 15, 2014.

  1. ridho1234

    ridho1234 Member

    Joined:
    Apr 8, 2014
    Messages:
    181
    Likes Received:
    3
    Trophy Points:
    18
    [​IMG]

    Di rumah reyot, Ade Asmara alias Bobi (41) menceritakan bagaimana ayahnya, Ramlan disiksa oleh aparat militer di zaman orba dengan tuduhan sebagai maling. Penyiksaan tersebut berujung pemecatan ayahnya sebagai pegawai Bank Indonesia (BI).

    "Jika Ayah saya mengambil uang itu seperti dituduhkan BI, apa mungkin kami hidup susah seperti ini?" kata Ade di rumahnya di Desa Dalu XA, Kecamatan Tanjung Morawa, Deli Serdang, seperti dikutip dari Majalah Detik, Selasa (14/4/2014).

    Ramlan bekerja sebagai kasir di BI cabang Medan sejak 2 Juni 1970. Kariernya tiba-tiba harus berakhir saat ia dipecat pada 1 September 1984 dengan tuduhan pencurian yang tidak pernah terbukti di pengadilan hingga saat ini.

    Di bawah intimidasi, Ramlan dipaksa mengaku. Beragam siksaan diterima, termasuk jempol kaki yang ditindih dengan kaki kursi, lantas diduduki empat orang. Tak tahan disiksa, Ramlan akhirnya menandatangani surat berisi pengakuan.

    Surat yang ditandatangani itulah yang menjadi penyebab ayahnya dipecat dari BI. Sejak saat itu semuanya berubah. Keluarga berantakan. Ramlan tak bekerja, mudah marah dan depresi berat. Ketika makan demikian sulit, maka pendidikan sudah tak menjadi prioritas. Bobi dan ketiga adiknya hanya mendapat pendidikan sampai bangku Sekolah Dasar.

    Kondisi yang labil membuat keluarga kadang menjadi sasaran amukan Ramlan. Khawatir dirinya menjadi sasaran dan mempertimbangkan nasib anak-anaknya Supriyati, istri Ramlan, akhirnya terpaksa meninggalkan Ramlan tahun 1990.

    Ketika itu terjadi, Bobi sudah lebih dahulu ke ke Jakarta. Sementara ketiga adiknya Erlan Prayatna, serta si kembar Roma Indra Praja dan Romi Praja Muda, ikut bersama ibunya.

    "Di Jakarta, saya ya menggelandanglah," tukasnya.

    Usai lama berpisah, kehidupan perlahan membaik dan mereka kembali berkumpul setelah puluhan tahun lamanya. Mereka sempat berkumpul bersama beberapa bulan sebelum Ramlan akhirnya meninggal pada 15 Februari 2014 karena sakit.

    Atas penyiksaan dan tuduhan yang tidak pernah tebukti itu, ahli waris Ramlan menggugat kerugian materiil sebesar Rp 5 miliar dan kerugian immateril Rp 1 triliun.

    "Soal nilai gugatan itu, bukanlah yang utama. Tetapi nama baik ayah saya dan hak-haknya. Kami menjadi susah karena fitnah itu," pungkas Bobi.

    http://news.detik.com/read/2014/04/15/090821/2555246/10/2/testimoni-korban-penyiksaan-orde-baru-yang-menggugat-bi-rp-1005-triliun

    Kasihan, yg nyolong mungkin bosnya....
     
  2. pram

    pram Well-Known Member

    Joined:
    Sep 23, 2013
    Messages:
    3,099
    Likes Received:
    161
    Trophy Points:
    63
    Google+:
    wah semoga di beri kesabaran

    wah semoga di beri kesabaran :D
     
  3. Ardilas

    Ardilas Super Level

    Joined:
    Feb 18, 2013
    Messages:
    4,245
    Likes Received:
    317
    Trophy Points:
    83
    Google+:
    Mungkin ada yg korupsi tapi

    Mungkin ada yg korupsi tapi mencari kambing hitam. Di dunia boleh lolos, di akhirat jangan harap :)
     
  4. paxspot

    paxspot Member

    Joined:
    Apr 7, 2014
    Messages:
    283
    Likes Received:
    9
    Trophy Points:
    18
    Google+:
    kejam banget ya cara-caranya.

    kejam banget ya cara-caranya...
    sama aja mengkambinghitaman seseorang...
     
  5. BEIM

    BEIM Active Member

    Joined:
    Mar 17, 2014
    Messages:
    1,358
    Likes Received:
    36
    Trophy Points:
    48
    jaman

    jaman orde lama memang banyak terjadi diskriminasi,,syukur deh indonesia sudah orde baru
     

Share This Page