Konflik Sunni Vs Syiah Bermula sebelum Perang

Discussion in 'General Discussion' started by zulsyid, Apr 28, 2015.

  1. zulsyid

    zulsyid Member

    Joined:
    Aug 20, 2013
    Messages:
    573
    Likes Received:
    17
    Trophy Points:
    18
    [​IMG]

    Akademisi dan Sejarawan Islam, Ustadz Alwi Ali Alatas menegaskan pergulatan konflik antara Sunni-Syiah di masa kini, banyak memiliki kemiripan dengan suasana sebelum masa Perang Salib.

    “Ini bukan pertama kali terjadi, kita pernah mengalaminya dulu pada era sebelum Perang Salib,” katanya saat berbincang dengan sejumlah wartawan, di Jakarta, belum lama ini.

    Dalam kesempatan tersebut, Ustadz Alwi mengisahkan konflik Sunni-Syiah pada abad 10 hingga 12. Konflik bermula ketika munculnya Syiah Fatimiyyah di Tunisia yang pada 60 tahun kemudian memindahkan pusat kekuasaannya di Kairo, Mesir.

    “Awalnya ketegangan sudah ada, cuma sebelumnya Syiah belum memiliki kekuasaan politik,” ujarnya.

    Ustadz Alwi menegaskan kisah pada masa kekhalifahan sengaja dia angkat karena kondisi relasi masyarakat Sunni-Syiah memiliki kemiripan pada saat ini. Syiah sudah memiliki kekuasaan politik, dan konfliknya bukan hanya pada ranah pemikiran melalui buku-buku tetapi sudah dalam konflik perebutan regional.

    “Pada zaman dahulu pun kita pernah memiliki masalah dengan Syiah dalam tahap yang serius, bahkan pernah ada tahap masalah yang lebih serius dari zaman sekarang,” ucap Ustadz Alwi.

    Sumber : Sunni Vs Syiah
     
  2. Faidah Wa

    Faidah Wa Member

    Joined:
    Apr 14, 2015
    Messages:
    59
    Likes Received:
    4
    Trophy Points:
    8
    Soal:

    ❓ Bagaimanakah kebenaran ucapan seseorang: "Sesungguhnya Rofidhoh dan Syi'ah itu lebih jahat terhadap Islam daripada Yahudi dan Nashoro"? Apakah ucapan itu berarti mengafirkan mereka? Apa sajakah batasan takfir? Dan kapankah seseorang dikafirkan dengan kafir akbar yang dengan hal itu ia dikeluarkan dari agama?

    Jawab:

    الحمد لله وصلى الله وسلم على نبينا محمد وعلى آله وأصحابه ومن والاه. وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له و أشهد أن محمدا عبده ورسوله. أما بعد:

    ✅ Ucapan ini adalah benar. Bahwa Rofidhoh dan Syi'ah lebih berbahaya terhadap Islam daripada Yahudi dan Nashoro, dengan makna sebagaimana kata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan yang dinukilkan dari beliau oleh muridnya adzDzahaby dan Ibnu Katsir dalam kitab al Bidayah wan Nihayah, bahwa Rofidhoh memiliki sikap-sikap bersama Yahudi dan Nashoro untuk melawan muslimin, dan ini tidaklah bermakna bahwa mereka mengkafirkan Syi'ah (secara mutlak/merata, pent).

    ☑ ⚫ Dan diantara contoh atas hal ini adalah bahwasanya Ibnu al 'Alqomiy si pengkhianat dulu adalah menteri dari Khalifah al Musta'shim. Dan dia menghias-hiasi kepadanya agar mengurangi jumlah pasukannya, lalu Khalifah pun melakukan hal itu.

    ☑ ⚫ Setelah itu, bangsa Tatar mendekati Ibnul 'Al qamiy dan Nashiruddiin at Thouwsy yang digelari dengan Nashiruddin (penolong agama) namun pada hakekatnya dia adalah penolong kesyirikan dan atheisme sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnul Qoyyim rahimahullah dalam kitab Ighatsatul Lahfaan.

    ☑ ⚫ Setelah itu, tatkala Tatar mendekat (dan ketika itu dalam hati mereka ada rasa kagum yang sangat hebat jika berhasil membunuh khalifah dan memasuki Baghdad), berkatalah Ibnul Al qamy si pengkhianat kepada mereka:
    "Tetaplah berada di dekat sini dan kami akan mengeluarkan khalifah pada kalian".

    ☑ ⚫ Lalu pergilah ia menghadap Khalifah dan mengatakan:
    "Mereka tidak ingin memerangi negara anda, dan tidak pula ingin membunuh anda. Mereka ingin menikahkan anda dengan putri Pimpinan Tatar".

    ☑ ⚫ Kemudian keluarlah beliau. Dan tatkala beliau keluar pada mereka, mereka menahan dan memenjarakan beliau di antara baghal (peranakan kuda dan keledai). Dan setelah itu mereka membunuhnya, rahimahullaah Ta'ala, dengan sebab pengkhianatan Ibnul 'Al qamiy.

    ↔ ⚡ Setelah melaksanakan pengkhianatan ini pada mereka, apa yang dilakukan bangsa Tatar?! Mereka mencampakkannya dan tidak menoleh kepadanya, hingga ada seorang wanita berkata padanya: "Mana yang lebih baik bagimu, tatkala kamu menjadi menteri untuk Daulah Abbasiyah ataukah yang sekarang (dalam keadaan dia terlantar, berjalan di jalan-jalan)?". Lalu ada yang mengatakan bahwa dia mati dalam keadaan menderita.

    Dan demikian pula di zaman kita ini. Kita saksikan Syiah bermesraan dengan para atheis/komunis. Maka Ali Salim al Baidh dan dia adalah seorang sosialis-komunis, dia sendiri tidak merasa aman kecuali jika dia berada di Sho'dah, di antara para Rofidhoh, di Baqim atau di tempat lainnya. Dan para Rafidhoh pun menyambutnya:
    ⚫ "Selamat datang, Abu Hasyim, selamat datang Abu Hasyim!", padahal dia seorang sosialis-komunis.

    ✅ Jadi, mereka memiliki sikap-sikap tertentu bersama Yahudi dan Nashoro untuk memerangi kaum muslimin, wallaahul Musta'an. Inilah maknanya.

    Dan adapun tentang takfir, maka dikafirkan di antara mereka orang yang mengatakan:
    "Sesungguhnya al Quran kita ini kurang (tidak lengkap)", atau mengatakan:
    "Sesungguhnya Jibril mengkhianati risalah", dan orang yang menyimpangkan Kitabullah. Atas dasar bahwasanya Syi'ah pada seluruh golongannya menolak sunnah Rosulullah shallallaahu 'alaihi wa 'ala aalihi wa sallam, dan mereka bersandar pada kitab-kitab karangan mereka sendiri, padahal kitab-kitab mereka itu mirip dengan kitab-kitabnya Yahudi dan Nashoro, tanpa disertai sanad-sanad dan tidak bersandar pada sanad-sanad tersebut. Jadi, mereka bersandar pada kitab-kitab mereka dan tidak bersandar pada apa yang ada dalam Shahih al Bukhory, Shahih Muslim, dan kitab-kitab hadits yang induk yang enam. Wallaahul Musta'an.

    Dan apakah batasan-batasan takfir? Dan kapan seseorang dikafirkan dengan kafir akbar yang dengannya dia dikeluarkan dari agama? Siapa yang menolak sesuatu (dari al Quran dan sunnah) maka diputuskan dengan takfir itu, atau sujud pada berhala, atau hal-hal yang lainnya. Yang seperti ini teranggap sebagai kafir.

    ▪Dan sangat disayangkan, bahwasanya hukuman had untuk orang yang murtad tidak dilaksanakan pada kebanyakan negara Islam, Wallaahul Musta'an. Padahal Mu'adz bin Jabal pernah menghadap kepada Abu Musa. Lalu dia melihat ada seorang yang terikat, lalu Mua'adz bertanya: "Ada apa ini wahai Abu Musa?". Abu Musa menjawab: "Orang ini murtad setelah masuk Islam." Mu'adz berkata: "Aku tidak akan turun hingga anda membunuhnya". Abu Musa menjawab: "Tidaklah kami mengikatnya kecuali agar kami bisa membunuhnya". Lalu Abu Musa membunuhnya pada saat itu juga. Wallaahul Musta'an, walhamdulillah.

    Namun pada kebanyakan negara Islam, mereka menghilangkan hukum had untuk orang yang murtad, dan tersisa disini (di negara Saudi) yang masih memberlakukannya, tidak mengapa di negara ini. Jazahumullaahu khoiron. Mereka melaksanakan hukum-hukum had karena hal ini. Semoga Allah menganugrahkan keamanan pada mereka dan memberkahi mereka dalam pekerjaan-pekerjaan dan usaha-usaha mereka. Wallaahul Musta'an.

    Dari kaset: Al Ajwibah Al 'Ilmiyyah 'alal As`ilatil Wushobiyyah

    Selengkapnya: di sini
     
Loading...
Similar Threads - Konflik Sunni Syiah
  1. tiyo
    Replies:
    2
    Views:
    587

Share This Page